Al Qur’an Sebagai Pedoman Hidup Manusia
Pendahuluan Al qur’an adalah kitab suci agama Islam. Umat Islam mempercayai bahwa Al-Qur’an merupakan puncak dan penutup wahyu Allah yang diperuntukkan bagi manusia, yang telah disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW melalui Malaikat Jibril. Arti Al Qur’an Dari segi kebahasaan (etimologi), Al-Qur’an berasal dari bahasa Arab yang berarti “bacaan” / “sesuatu yang dibaca berulang-ulang”. Kata Al-Qur’an adalah bentuk kata benda dari kata kerja qara’a yang artinya “baca”. Sejarah turunnya Al Qur’an
Penurunan Al-Qur’an terjadi selama 23 tahun. Dibagi masa turun ini dibagi menjadi 2 periode, yaitu periode Mekkah dan periode Madinah. Periode Mekkah berlangsung selama 13 tahun masa kenabian Rasulullah SAW dan surat-surat yang turun pada waktu ini tergolong surat Makkiyyah. Sedangkan periode Madinah yang dimulai sejak peristiwa hijrah berlangsung selama 10 tahun dan surat yang turun pada waktu ini disebut surat Madaniyah. Pada masa ketika Nabi Muhammad SAW masih hidup, terdapat beberapa orang yang ditunjuk untuk menuliskan Al Qur’an yaitu Zaid bin Tsabit, Ali bin Abi Talib, Muawiyah bin Abu Sufyan dan Ubay bin Kaab. Media penulisan yang digunakan saat itu berupa pelepah kurma, lempengan batu, daun lontar, kulit atau daun kayu, pelana, potongan tulang binatang. Selain itu banyak juga sahabat-sahabat yang langsung menghafalkan ayat-ayat Al-Qur’an setelah wahyu diturunkan.dan juga ikut menulis wahyu tersebut walau tidak diperintahkan Pada masa kekhalifahan Abu Bakar, terjadi beberapa pertempuran yang mengakibatkan tewasnya beberapa penghafal Al-Qur’an dalam jumlah yang banyak. Umar bin Khattab yang saat itu merasa sangat khawatir meminta kepada Abu Bakar untuk mengumpulkan seluruh tulisan Al-Qur’an yang saat itu tersebar di antara para sahabat. Abu Bakar memerintahkan Zaid bin Tsabit sebagai koordinator pelaksaan tugas tersebut. Setelah pekerjaan tersebut selesai dan Al-Qur’an tersusun secara rapi dalam satu, hasilnya diserahkan kepada Abu Bakar. Abu Bakar menyimpan barang tersebut hingga wafatnya kemudian barang tersebut berpindah kepada Umar sebagai khalifah penerusnya, selanjutnya dipegang oleh anaknya. Pada masa pemerintahan khalifah ke-3 yaitu Utsman bin Affan, terdapat keragaman dalam cara pembacaan Al-Qur’an yang disebabkan oleh adanya perbedaan dialek antar suku yang berasal dari daerah berbeda-beda. Hal ini menimbulkan kekhawatiran Utsman sehingga ia mengambil kebijakan untuk membuat sebuah mushaf standar yang ditulis dengan sebuah jenis penulisan yang baku. Standar tersebut, yg kemudian dikenal dengan istilah cara penulisan Utsmani yg digunakan hingga saat ini. Bersamaan dengan standarisasi ini, seluruh mushaf yang berbeda dengan standar diperintahkan untuk dimusnahkan (dibakar). Dengan proses ini Utsman berhasil mencegah bahaya terjadinya perselisihan antara umat Islam di masa depan dalam penulisan dan pembacaan Al-Qur’an. Demikianlah selanjutnya Utsman mengirim utusan kepada Hafsah untuk meminjam mushaf Abu Bakar yang ada padanya. Lalu Utsman memanggil Zaid bin Tsabit Al-Anshari dan tiga orang Quraish, yaitu Abdullah bin Az-Zubair, Said bin Al-Ash dan Abdurrahman bin Al-Harits bin Hisyam. Ia memerintahkan agar mereka menyalin dan memperbanyak mushaf. Setelah mengembalikan lembaran-lembaran asli kepada Hafsah, ia mengirimkan tujuh buah mushaf, ke Mekkah, Syam, Yaman, Bahrain, Bashrah, Kufah, dan sebuah ditahan di Madinah. Fungsi Al Qur’an dalam kehidupan sehari-hari Fungsi dari Al Qur’an dalam kehidupan sehari-hari adalah sebagai:1.Petunjuk2 Arti dari petunjuk3.Pembeda Kesimpulan/ Penutup Al Qur’an adalah sumber yang baik untuk orang Islam karena dari situ kita bisa belajar perbedaan dari yang boleh dan yang tidak boleh dilakukan.Tanpa Al Qur’an kita bisa melakukan sesuatu yang seharusnya tidak kita lakukan.
2 comments January 4, 2008
meutia
Hello world!
This is my first post: Hello everyone. Happy mother’s day. Merry Xmas and happy new year. I hope U will have a great holiday.
1 comment May 25, 2006
meutia